SUKU WIGU/ UIGHUR... KINI
Cina bisa jadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar keempat di dunia. Tapi di dalam negeri sendiri, jurang antara kemakmuran dan kemiskinan sangat mencolok. Seperti terlihat di Provinsi Xinjiang di bagian barat laut Cina.
Provinsi ini adalah daerah termiskin dan jauh dari kesibukan dan hiruk pikuk kota besar seperti Shanghai atau Beijing. Daerah yang terdiri dari padang pasir ganas dan daerah pegunungan ini adalah rumah bagi sebagian besar kelompok minoritas Muslim Uighur.
Sejak beberapa tahun ini, pemerintah berupaya meningkatkan pembangunan di daerah tersebut untuk memperkecil jurang pendapatan yang lebar tersebut.
Tapi kampanye ini juga bertujuan menjaga stabilitas daerah rawan ini di mana Uighur merasa kesal dengan kedatangan orang-orang Cina Han.
Hari masih gelap ketika azan berkumandang dari mesjid Id Kah Kashgar yang terletak diseberang alun-alun kota.
Dari berbagai sudut kota, datang para pria yang mengenakan peci sulaman tradisional menuju masjid untuk sholat subuh.
Bagunan batu pasir berwarna kuning dengan menara dan memiliki halaman rindang itu adalah masjid terbesar di Cina dan pusat
kegiatan komunitas Uighur.
Agama adalah ciri utama kelompok ini yang jumlahnya berkisar sepuluh juta orang. Banyak perempuan dewasa bila bepergian menggunakan cadar berwarna coklat yang menutupi wajah mereka.
Di kota tua Kashgar, dengan rumah-rumah kecil yang terbuat dari batu bata lumpur, masyarakatnya menyandarkan hidup pada usaha kerajinan dan perdagangan.
Para pemuda duduk di atas tungku bata bata besar dengan balok roti di dalamnya.
Tradisi dan adat istiadat di kota ini lebih kental dengan nuansa Asia Tengah daripada budaya Cina. Masyarakat Uighur menggunakan bahasa Turki dan aksara Arab. Sedangkan Beijing terletak ribuan kilometer ke arah timur.
Walau begitu Beijing menjaga dengan ketat kota tersebut. Salah satunya lewat kehadiran pasukan militer besar di sana. Serta cukup banyak pendatang kaya moderat dari ibukota, sebagai bagian kampanye untuk daerah barat milik pemerintah.
Dicanangkan tujuh tahun yang lalu, kampanye ini bertujuan menyebarkan pertumbuhan ekonomi diantara lonjakan provinsi sepanjang pantai dan membendung dorongan untuk melakukan tindakan separatis dalam komunitas Uighur.
Dari luar strategi ini kelihatnnya berhasil. Di sebuah halaman yang teduh, Achmed, 25 tahun, sedang bermain kartu dengan teman-temannya.
“Kami punya lebih banyak bahan makanan, pakaian, dan kondisi hidup lebih baik. Beberapa orang berpikir soal separatisme saat ini-karena hidup kami lebih baik. Tentu saja saya tidak tahu bagaimana masa depan nanti, begitu juga dengan pemerintah.”
Gerakan sporadis dan beberapa protes keras telah muncul di Xinjiang sejak program ini dimulai. Para pengamat mengatakan mereka ini muncul sekali-sekali. Tapi ini bisa dijadikan landasan tindakan agresif pihak berwenang.
Pejabat berwenang meminta pada kelompok nasionalis Uighur agar masyarakat tidak terlibat dalam aktivitas agama yang ekstrem. Masjid dan para pemimpinnya juga dikontrol ketat.
Kelompok HAM memprotes tindakan intimidasi, kekerasan dan tuntutan terhadap aktivis Uighur.
Informasi terpecaya sulit ditemukan. Diantara orang-orang Uighur, ada ketakutan untuk berbicara.
Beberapa ratus kilometer timur Kashgar, bus yang berisi pekerja musiman menanjak melewati bukit pasir yang besar menuju pemukiman baru yaitu kota Alar.
Para pekerja itu datang dari daerah selatan Xinjiang atau dari Kashgar sendiri untuk memetik kapas.
Jalan tol tersebut selesai awal tahun ini, membelah padang pasir ganas Taklamakan. Pejabat partai lokal Zheng Hinrong mengatakan ini adalah jalan kedua yang pernah di bangun di Taklamakan.
“Sebelumnya, perjalanan dari Hetian di selatan Alar dan Aksu mencapai 1000 kilometer; sekarang hanya 420 kilometer. Ini jelas dapat membantu pembangunan lebih cepat di wilayah barat.�?
Sebagai bagian dari kampanye untuk daerah barat, daerah itu juga dibuka untuk industri dan berusaha mengintensifkan eksplorasi cadangan minyak dan gas.
Pemerintah pusat menggelontorkan jutaan dolar untuk proyek ini. Di sisi lain, perputaran uang yang besar juga menarik jutaan orang Cina Han.
Migrasi ini-yang secara aktif didorong pemerintah-telah mengganggu keseimbangan etnik. Uighur, sebelumnya adalah mayoritas penduduk di Xinjiang namun saat ini tinggal 45 persen saja dalam populasi lokal.
Dan banyak diantara mereka, seperti Ahmed, pedagang Kashgar, mengeluhkan hasil pembangunan yang tidak dapat mereka nikmati.
“Masih sedikit lowongan kerja dan ini adalah masalah besar untuk kami. Banyak orang Uighur yang tidak menggunakan bahasa Mandarin dan sangat sulit bagi kami untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus.”
Juga ada kritik mengenai banyak proyek di Xinjiang yang keuntungannnya dinikmati daerah timur dan hanya sedikit yang bertujuan mengembangkan industri lokal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Ngobrol ringan tentang Thifan Po Khan, kunjungi saja http://thifan-saif.blogspot.com/
Posting Komentar