Kungfu Dan Peran China Muslim
Walaupun ada yang membenarkan bahwa ilmu bela diri Kung Fu berasal dari orang cina-muslim. Sekiranya kurang tepat kalau dikatakan bahwa KUNGFU (walaupun secara umum) adalah beladiri yang khususnya muslim. Sebab sejarah kungfu di cina sudah demikian panjang dan lama. Kalau Shaolin mau dijadikan patokan, itu sudah sekitar 2000-an tahun lalu, jadi jelas sebelum jaman Rasulullaah SAW.
Istilah KUNGFU sebenarnya dipopulerkan oleh Bruce Lee, yg mempunyai arti asal: "keahlian yg diperoleh sebagai hasil tempaan yg terus menerus". Beladiri secara umum lebih cocok digunakan istilah WUSHU (yg sekarang menjadi istilah resmi KungFu di dunia).
Beladiri sebagai kegiatan pertahanan diri tentu saja usianya mungkin sudah setua jaman anaknya Nabi Adam AS (perkelahian Habil-Qabil). Teknik2 yg kemudian berkembang dan disistemasi menjadi pengetahuan dan ketrampilan khusus tentu juga tidak hanya berkembang di satu wilayah. Satu hal yg amat berperan adalah kondisi wilayah sekitar, hal inilah yg sering mencirikan satu teknik dibanding yg lainnya.
Ummat muslim di cina sudah ada sejak jaman Khulafaur Rasyidin. Dalam sejarah cina mereka dikenal sebagai komunitas yg tertib, rajin, cerdas (dalam bidang ilmu pengetahuan), dan mahir berperang. Kalau shaolin terkenal sebagai pusatnya beladiri perorangan, maka komunitas muslim adalah kiblatnya beladiri untuk peperangan besar.
Di jaman dinasti Ming (satu dinasti sebelum dinasti Qing, kaisar-kaisar Qing berkebangsaan manchu, bukan cina-han, dinasti terakhir di cina), banyak dari jendral2 besarnya adalah muslim, termasuk yg bersama para Wali Songo (sebagian besar Cina) menyebar Islam ke Jawa dan kemudian menumbangkan Majapahit yang hindu. Pendiri kerajaan Pajang, Sunan Trenggono atau Tung Ka Lo dan Sunan Demak atau Raden Fatah Jin Bun, merupakan dua contoh dari sekian banyak jenderal cina-muslim yang bersumbangsih demi ukhuwah islamyah. Kemampuan dan strategi berperang mereka yg brilian diakui oleh dinasti Ming maupun bangsa portugis dan komunitas muslim di Jawa saat itu sangat dihormati dan disegani.
Namun pada saat dinasti Ming runtuh, dan dinasti Qing yang manchu naik (abad ke-17), maka mulailah masa2 suram komunitas muslim di Cina. Dua kekuatan utama yg dihancurkan oleh Dinasti Ming adalah: Shaolin (utara dan akhirnya juga yg selatan) dan komunitas muslim. Keduanya memiliki kesamaan: sebagai komunitas yg teratur dan sama2 ahli beladiri/peperangan.
Masjid2 dihancurkan sebagaimana juga dua kuil utama shaolin. Para aktifis dan jago2 beladirinya dikejar ditangkapi dan disiksa. Sebagian besar mereka menyebar secara underground dan mengembangkan ketrampilan beladirinya tidak memakai nama2 shaolin atau nama2 muslim, melainkan menggunakan nama2 keluarga. Muslim waktu itu ditangkapi dan dikepalanyadiberi cap (seperti cap utk sapi) yg berbunyi: "pecundang"...
Sampai saat ini, baik style shaolin maupun style kungfu komunitas muslim masih terjaga rapi. Beladiri kungfu komunitas muslim ini lebih banyak berupa jangkauannya panjang karena berkembang di wilayah Cina yang lebih ke utara. Senjata2 yg menjadi ciri khas mereka juga banyak berupa senjata2 panjang utk pertempuran (misalnya tombak/toya). Satu aliran/style kungfu muslim yg disegani adalah: TAN TUI.
Ketika pada tahun 1990 Komite Wushu Nasional Cina menetapkan 7 nomor pertandingan wushu utk penyeragaman dari sekian banyak aliran/style yg ada, maka kungfu muslim sangat berpengaruh di minimal dua nomor: Chang Quan (tangan kosong aliran panjang) dan Tombak (spearplay). Jurus2 mereka diadopsi di dua nomor ini dengan cukup dominan.
Semoga ada manfaatnya, fakta sejarah tersebut yg diselewengkan dan disembunyikan sejak zaman VOC sampai Orde Baru, akhirnya tentulah akan sia-sia, politik SARA yang mereka pakai untuk berkuasa terus.
Iwan Subali
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar